Monday, April 27, 2009

Basket #8 - Pertandingan Persahabatan

Pertandingan persahabatan biasanya diadakan sebelum kompetisi dimulai. Di sini kita belajar untuk mengenal lawan di luar area kompetisi. Ada salah satu pengalaman yang berkesan bagiku saat pertandingan persahabatan.

Saat itu St. Agnes akan bertanding dengan tuan rumah St. Clara. Pak Bambang, pelatih St. Agnes, menjadi wasit dalam pertandingan persahabatan itu. Namanya juga pertandingan persahabatan, semuanya dilakukan dengan penuh senyuman dan canda-tawa. Namun, ada seorang pemain Sanclar namanya Dian, biasa dipanggil sliding tackle oleh teman-teman St. Agnes karena kebiasaannya yang suka jatuh kalau berlari. Entah Dian terjatuh karena terpeleset atau hal lain sebenarnya, sampai sekarang aku tak tahu. Suatu kali, Dian sedang men-dribble bola menuju arahku. Tiba-tiba saja kejadiannya begitu cepat, Dian terjatuh ke depan dan dengan manisnya meluncur sampai bawah kakiku. Refleks, aku pun tertawa terbahak-bahak, aku heran kok bisa-bisanya dia jatuh, padahal sama sekali tidak disenggol oleh siapapun. Tentu saja Dian tersinggung karena aku tertawa itu, dia langsung pergi ke bangku cadangan dan kulihat dia berbisik-bisik dengan teman-teman Sanclar-nya.


O-oo.. Aku telah membuat permusuhan dengan seseorang. Aku tahu aku salah menertawainya tadi, tapi aku sama sekali tidak berniat minta maaf atas kelakuanku tadi. Hehe.


Aku tahu Dian marah padaku, namun tak kusangka kemarahannya teramat dahsyat hingga kacamataku bengkok. Ceritanya saat itu aku sedang membawa bola, lalu Dian berlari ke arahku dan merebut bolaku dengan amat-sangat-kasar-sekali. Aku tak suka bolaku direbut semudah itu, aku balas menarik lagi bola itu dari tangannya, lalu yang tidak kusangka dia menyikut mukaku dengan begitu kerasnya sambil berkata “HHH!!” !!!! Kejadian selanjutnya pandanganku kabur, ternyata kacamataku jatuh di lapangan. Nah, begitu kacamata itu kuambil dari tanah, aku sadar lensanya tidak ada alias sudah jatuh dari tempatnya. Kuambil serta lensa itu dan aku benar-benar sakit hati dengan sikap Dian itu. Begitu teganya dia merusak kacamataku dan aku tahu pasti dia benar-benar sengaja ingin merusak kacamataku itu. Aku yakin dia melakukan itu karena marah padaku. Aku hampir menangis sekaligus ingin menampar mukanya yang tidak menyenangkan itu. Aku akhirnya duduk di bangku cadangan sambil berusaha membetulkan kacamataku yang rusak itu. Ternyata bengkoknya luar biasa, benar-benar dahsyat Dian itu. Selama sisa pertandingan aku bermain tanpa kacamata dan aku berharap pertandingan segera berakhir karena aku tak tahan lagi melihat Dian yang terus-terusan menebarkan tawanya!


Aku benar-benar-amat-sangat-marah-sekali sampai-sampai aku tidak mau menyalaminya, bahkan melihatnya usai pertandingan. Aku cepat-cepat keluar dari Sanclar itu dan mengutuk Dian dalam hati. Pertandingan persahabatan kali ini terbukti tidak berhasil menciptakan persahabatan dengan pihak Sanclar, malah menimbulkan permusuhan yang sampai sekarang pun aku masih jengkel bila mengingat peristiwa itu.

Thursday, March 19, 2009

Basket #7 - Arti Sebuah Kemenangan

Apa sih yang paling diinginkan semua tim basket saat bertanding? Aku bertaruh pasti yang paling diinginkan adalah kemenangan. Tidak ada tim yang ingin kalah. Semuanya cinta basket tapi hanya yang mampu-lah yang bisa bersaing. Semacam proses seleksi alam.

Tidak ada orang yang bermain basket demi uang, kecuali dia terpaksa bermain basket. Walaupun di setiap kompetisi tertera nominal uang untuk para juara, tim kami tidak pernah sekalipun melihat hal ini. Yang terpenting adalah ikut bertanding dan menang. Coba bayangkan, dalam kompetisi sebesar DBL tahun 2005 saja, sekali menang dalam pertandingan babak-babak awal, tiap tim berhak atas uang Rp 100.000,-. Kalau kalah, ya tidak dapat apa-apa.. (ya iyalah.. hahaha) Uang 100.000 dibagi untuk 12 orang pemain plus pelatih plus guru pendamping plus sekolah. Lalu tiap pemain dapat jatah berapa dong?

Pernah suatu kali dalam kompetisi, aku mendapat jatah sekitar Rp 38.000,-. Inilah uang hasil keringat pertamaku. Begitu gembiranya waktu itu. Hahaha.. Uang itu akhirnya aku kasih ke Mama untuk dimasukkan ke bank.
Back to the beginning..

Kemenangan adalah hal yang terpenting.......

Aku ingat saat tim SMP St. Agnes ikut dalam Petra 4 Cup. Saat itu babak semifinal. Satu kemenangan lagi akan membawa kami pada babak puncak yaitu final. Lawannya waktu itu adalah SMP Petra 1 Surabaya. Mereka lumayan terkenal di kalangan basket, karena ada satu pemainnya bernama Stephanie Sinatra yang hebat. Aku optimis bisa menang dalam pertandingan waktu itu. Namun, ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tim Petra kuat dan kompak dalam bertahan. Kami kesulitan mencetak angka. Tim jadi kacau, panik, dan permainan pun berantakan. Kami tertinggal 5-7 point mulai awal pertandingan.

Oh, aku tidak ingin timku berakhir di sini. Kami benar-benar ingin menang, dan HARUS menang! Waktu tersisa 50 detik lagi dan kami masih tertinggal 5 angka. Horay.. Kami berhasil memperkecil ketertinggalan kami. Sisa 30 detik lagi..... Kami tertinggal 3 angka sekarang. Tim Petra tampaknya mulai terburu-buru dan konsentrasi mereka agaknya menurun. Kami berhasil memasukkan 2 angka lagi plus free-throw yang mulus. Skor imbang sekarang. 15 detik lagi pertandingan akan berakhir......

Oooh.. Aku tidak ingat bagaimana hebatnya timku bisa mencetak 2 angka lagi. Hehehe.. Sekarang kami balik memimpin. Aku lihat Stephanie Sinatra dari Petra itu nampak tegang. Waktu tinggal 8 detik lagi... Dan sekarang ia mendribble bola dan menatap ring basket dengan “haus”. Hahaha.. Timku tahu, kami tidak boleh lengah, 2 point yang berharga ini harus dipertahankan dengan segala cara! Kami menghalang-halangi jalur Stephanie itu... Waktu tinggal 3 detik lagi. Dia berada di luar garis 3 point, kami tidak boleh membiarkannya tanpa penjagaan!!


3....



2....



1....




0!!



Akhirnya waktu habis, dan Stephanie tidak sempat melakukan three-point shoot. Dia langsung terduduk di tengah lapangan dengan bola masih di tangannya. Timku bersuka cita dengan kemenangan ini. Kami masuk final! Tidak disangka, setelah ketinggalan terus dari babak pertama, akhirnya kami berhasil bangkit!!


Di sisi lain, kulihat teman-teman Stephanie berusaha menghibur dia. Ternyata dia menangis! Aku tidak menyangka, ternyata dia begitu mencintai basket, sampai-sampai dia menangis seperti itu. Aku kasihan dengannya, tetapi seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, “Semuanya cinta basket tapi hanya yang mampu-lah yang bisa bersaing.” Dia benar-benar pemain yang hebat. Dalam tangisannya, dia masih mau tersenyum saat bersalaman dengan tim kami. Benar-benar sikap yang sportif. Dialah juara sejati dalam pertandingan kali ini. Sungguh!!


Mulai dari hari itu, kusadari tak ada satupun di dunia ini yang ingin dilahirkan tanpa bakat atau tidak sempurna. Namun, kita bisa menyempurnakan diri sendiri dengan banyak berdoa dan berusaha mengembangkan semua kemampuan yang kita miliki. Niscaya kita akan jadi orang yang “hebat” dan “kuat” dalam segala hal.

Friday, February 6, 2009

Basket #6 - Kapten

Dalam sebuah tim, diperlukan 5 pemain yang tangguh dan mampu bekerja sama dalam tim. Diperlukan pula peranan pemain cadangan yang selalu siap sedia menggantikan pemain utama bila terjadi sesuatu. Dari sebuah tim, hendaknya ada seorang kapten tim. Apa itu kapten dan apa pula peranannya?

Banyak pemikiran yang mengatakan bahwa kapten tim itu haruslah seseorang yang paling hebat dalam permainan basket, harus punya skill yang paling baik di antara kawan-kawannya. Namun, sebenarnya bukan itulah kapten tim.

Kapten tidaklah harus menjadi orang yang paling "hebat", tetapi haruslah orang yang paling "kuat".

Kapten ialah orang yang mampu mengendalikan timnya, mampu memahami seluruh teman-teman satu tim. Dialah yang pertama kali memahami karakter lawan, dan mampu memberikan ketenangan bagi sebuah tim.

Jabatan kapten ini sangatlah penting. Sebuah tim harus memiliki kapten. Bila tidak ada kapten, ibarat sebuah kapal yang berjalan tanpa nahkoda. Tak tentu arah dan kapal akan berjalan sendiri menurut arus. Apakah hal ini baik? Tentu tidak..

Jabatan kapten terkadang sangatlah dibangga-banggakan oleh pemiliknya seakan-akan ia sudah “menang”. Padahal dengan adanya jabatan itu, beban psikologis pastinya akan bertambah. Saat timnya menang, kaptenlah yang pertama kali dielu-elukan dan yang pertama kali menyentuh piala kemenangan. Sebaliknya bila timnya kalah, kaptenlah orang pertama yang mendapatkan sindiran.

Ada satu sikap yang amat kuingat sampai sekarang, mengenai pengalamanku saat menjadi kapten. Saat pertandingan melawan SMPN 1 Blitar, saat itu adalah babak Fantastic Four di ajang DBL 2005. Tim benar-benar dalam kondisi kalah mental sebelum bertanding. Aku sudah pesimis sebelum bertanding, padahal seharusnya aku memberikan semangat saat tim sedang down! Kita belum siap sepenuhnya bertanding melawan tim yang diagung-agungkan di koran Jawa Pos saat itu. Rasanya kita sudah yakin pasti kalah, walaupun pertandingan belum berjalan sedetik pun. Sudah bisa ditebak, dengan mental buruk seperti itu, tim benar-benar kalah telak 9-80. Yang membuatku lebih malu lagi adalah aku sempat marah pada seorang kawan timku yang mencoba berkenalan dengan lawan ketika pertandingan telah usai. Rasanya dia benar-benar mengkhianati tim, tetapi sebenarnya pikiranku inilah yang menyadarkan aku bahwa aku sangatlah egois. Aku baru menyadarinya beberapa hari setelah itu. Aku marah pada diriku sendiri!! Benar-benar memalukan..

Sunday, January 18, 2009

Basket #5 - Lay-up

Teknik shoot yang umum adalah jump shoot, tetapi ada satu lagi yang disukai semua pecinta basket yaitu lay-up. Lay-up ini adalah menembakkan bola ke arah ring sambil melayang. Susah dijelaskan dengan kata-kata, namun yang pasti lay-up ini diawali dengan maksimal 2 langkah sambil membawa bola. Jadi, setelah mendribble, bola dipegang dan langkahkan kaki 2 kali. Pada langkah yang kedua, kaki yang digunakan jadikanlah tumpuan sehingga ada saat-saat kita melayang dan saat itulah tembakkan bola. Understand? Hehehe..

Pada awalnya, aku melihat contoh dari Bembeng dan beberapa anak basket senior yang lay-up. Kelihatannya gampang, tinggal lari aja dan melayang sebentar. Namun apa yang dilihat selalu terlihat lebih mudah bila kita lakukan sendiri, setuju? Pertama kali mencoba lay-up, aku bingung kaki mana dulu yang melangkah, kapan bola harus dipegang, dst. Satu kali-dua kali-tiga kali-dst aku masih belum bisa. Aku lihat anak-anak yang lain juga kesulitan seperti aku. Malah kalau disuruh lay-up, kami selalu mengantri di barisan paling belakang saja.

Kami ingin menghindari kesulitan, padahal kesulitan itulah yang harus dihadapi bila kami ingin maju.

Beberapa anak basket senior menyarankan tidak usah dipikirkan hal-hal konyol macam itu lah, kapan harus ini-kapan harus itu, dikira-kira sendiri. Saran yang agak aneh itu nyatanya memang benar. Satu semester penuh aku latihan lay-up dan akhirnya berhasil, kaki dan tanganku sudah tahu sendiri kapan waktunya untuk melangkah, melompat, atau memegang bola. Yang penting sekarang adalah fokus pada ring-nya. Rasanya bagai terbang, ringan, akhirnya aku bisa lay-up. Hahaha..

Makanya bila ingin mencapai sesuatu, yang terpenting adalah fokus dan hadapilah segala tantangan yang ada. Jangan mudah menyerah, karena sekali-dua kali-bahkan seribu kali belumlah cukup mengingat kita adalah manusia biasa.