Tuesday, January 5, 2010

The Most Inspiring Woman (after my Mom)

Seharusnya postingan ini aku tuliskan 3 atau 4 tahun yang lalu, bukan sekarang. Walaupun sudah terlambat sekali, tidak apa-apalah, yang penting aku akan membagikan kisah hidup seorang wanita yang mampu memberi inspirasi (terutama untukku).


Saat aku masuk SMA Sinlui (sekitar tahun 2006), mamaku ingin aku les pada guru les yang benar-benar profesional, bukan sekadar guru les biasa. Kalau bisa, dari kalangan guru SMA juga supaya lebih bisa mengajari aku. Akhirnya aku dikenalkan dengan Ce Yanni, seorang guru Fisika di SMA Petra 2 Surabaya (sekarang mengajar di SMA IPH Surabaya). Ce Yanni ini masih kelihatan muda dan fresh-graduate menurutku. Tapi ternyata aku salah, Ce Yanni ini sudah hampir kepala 3 umurnya saat aku bertemu pertama kali.


Ce Yanni orang yang menyenangkan. Dia sering tertawa-tawa ga jelas, dia gila bola, dia cinta David Beckham, dia tergila-gila pada musik dan Jay Chou. Di sisi lain, dia bisa serius sekali, mengajarkan aku banyak hal melalui pengalaman-pengalaman hidupnya. Dia seorang Kristen yang taat, pengajar sekolah minggu untuk anak-anak, menjadi pianis dalam kebaktian.



Dari beberapa kali pertemuan dengan Ce Yanni, aku mulai menyadari bahwa beban hidupnya lumayan berat. Lama kelamaan aku lihat Ce Yanni sering migrain ga jelas, insomnia, sampai-sampai kantong matanya itu hitam sekali. Ce Yanni sering cerita-cerita ke aku tentang orang tuanya yang sudah meninggal, profesi guru yang sebenarnya dia tidak inginkan, sampai masalah pasangan hidup yang sampai sekarang menggantung ga jelas.



Ce Yanni orang yang hebat, aku menganggapnya sebagai wanita terkuat yang pernah aku kenal. Siapa saja yang mengenalnya pasti akan berkata, "Wow, wanita ini sungguh luar biasa!"  Aku tidak melebih-lebihkan, tetapi memang dia adalah wanita yang luar biasa. Aku akan ceritakan pengalaman hidupnya yang sungguh berkesan bagiku, ini dia:



Ce Yanni terlahir dari orang tuanya yang telah 5 tahun menikah. Ce Yanni tidak punya saudara kandung lain, jadi dialah satu-satunya harapan orang tua. Walaupun Ce Yanni ini adalah anak tunggal, dia tidak pernah sekalipun bermanja-manja pada orang tuanya. Terutama mamanya, yang selalu bersikap keras padanya dan mengajarkan bahwa perempuan harus mandiri, tidak boleh kalah dengan laki-laki. Sedangkan papanya adalah sahabat terdekatnya, teman curhat yang paling ia percayai, sekaligus guru yang selalu membimbingnya. Ce Yanni lebih dekat dengan papanya dan boleh dikatakan lebih sayang pada papa daripada mamanya.



Sejak kecil, Ce Yanni sudah terbiasa sendirian di rumah, sedangkan papa-mamanya masih bekerja. Masa-masa sekolahnya sangat cemerlang. Dia meraih juara kelas, juara III lomba drum band tingkat Nasional, dan masih banyak predikat juara yang ia dapatkan. Boleh dibilang, masa kecilnya sangat bahagia. Sewaktu SMA, ia mulai berpacaran dengan sahabatnya sendiri (aku tidak tahu namanya, tapi Ce Yanni memanggilnya KOKO, hehehe..).



Saat  Ce Yanni mau lulus SMA, papanya mulai sakit-sakitan dan ekonomi keluarganya mulai tidak sebaik dulu. Sehingga pada akhirnya ia berpikir, mau kuliah apa nanti, yang tidak membutuhkan biaya besar dan lulusnya cepat. Ce Yanni sendiri ingin menjadi arsitek, sudah dari kecil ia sudah membayangkan dirinya sebagai seorang arsitek. Tapi ia sendiri sadar, kuliah arsitek pastilah membutuhkan biaya yang tidak sedikit, belum lagi nanti banyak tugas yang butuh biaya juga. Mamanya sendiri, dengan berat hati, menyarankan Ce Yanni jadi guru saja. Setelah dipikir-pikir, akhirnya Ce Yanni masuk Pendidikan Fisika di Widya Mandala. Ce Yanni sering berkata padaku bahwa menjadi guru bukanlah hal yang diminatinya, tetapi mau bagaimana lagi, keadaan ekonomi tidak memungkinkan. Saat itu memang kuliah Pendidikan Fisika tidak semahal jurusan lainnya.



Kuliahpun dijalaninya dengan berat hati namun akhirnya ia bisa lulus memuaskan. Ia mulai mengajar di SMA Petra 2 itu. Ia juga membuka les-lesan untuk murid SMA. Ia menjadi tulang punggung keluarganya karena papanya tambah parah dan tidak bisa bekerja lagi. Untung ia masih memiliki pacar yang baik hati. Tidak terasa sudah 10 tahun mereka berpacaran. Tetapi karena kondisi papa Ce Yanni yang masih sakit, tidak mungkin melanjutkan ke jenjang pernikahan walaupun sebenarnya Ce Yanni sangat ingin.



Kondisi papa Ce Yanni makin drop dan akhirnya meninggal dunia. Ce Yanni shock berat karena kejadian itu. Ia kehilangan seseorang yang amat dipercayainya selama hidup ini. Karena kematian papanya, mamanya pun jadi stres dan sakit-sakitan juga. Mamanya menderita diabetes akut, lumayan sering harus ke rumah sakit dll. Sedangkan Ce Yanni sendiri harus mengajar di sekolah, les-lesan, dan mengurus pemakaman papanya + pengobatan mamanya. Saat itu adalah masa-masa yang berat baginya.



Ditambah lagi dengan pacarnya yang sudah 10 tahun dengannya, akhirnya memutuskan Ce Yanni setelah tahu papa Ce Yanni meninggal. Putus dengan pacar adalah hal yang wajar, tetapi Ce Yanni sudah 10 tahun bersamanya!! Bukan hal yang mudah untuk berjauhan dengan orang yang sudah 10 tahun menjadi orang terdekatmu. Alasan putusnya pacaran mereka juga karena hal yang tidak beradab sama sekali : calon mertuanya itu tidak setuju kalau pacaran itu dilanjutkan, karena papanya Ce Yanni sudah meninggal + mamanya sakit-sakitan dan butuh biaya banyak, sehingga otomatis Ce Yanni harus menanggung semuanya sendirian sebagai anak tunggal. Kalau pacaran itu diteruskan, tentunya akan menyeret keluarga pacarnya juga. Mulai dari pinjam uang terus-menerus dan akhirnya pernikahan mereka pun tidak bakal sukses. Bullshit semua omongan seperti itu. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa orang tua pacarnya pun tentu menginginkan yang terbaik untuk keluarganya sendiri.



Masalah bertubi-tubi seperti itu benar-benar membuat Ce Yanni stres berat. Di saat ia butuh someone yang bisa menghiburnya, ia malah ditinggalkan begitu saja. Menurutku, mantan pacarnya itu bukan seorang yang gentle, ia lari dari kenyataan. Ce Yanni mulai menyalahkan Tuhan karena sudah mengambil orang-orang yang dicintainya, mulai dari papanya, sekarang pacarnya.



Tabungan Ce Yanni juga terkuras habis untuk biaya sana-sini. Terutama pengobatan mamanya. Sampai-sampai mamanya opname di rumah sendiri, padahal keadaannya sangat kritis. Ce Yanni juga latihan menjadi suster, mulai menyuapi mamanya, mengukur tensi sampai menyuntikkan insulin. Mungkin KEADAAN-lah yang membuat Ce Yanni menjadi wanita yang tegar dan mandiri.


Memang hanya Tuhan yang tahu jalan hidup manusia. Mamanya Ce Yanni tidak bisa melawan penyakitnya. Mamanya meninggal pada November 2005. Ce Yanni kembali dalam keterpurukan, ia sendirian di rumah. Tidak ada lagi papa-mama yang setia mendampinginya. Ia hidup sendiri dengan menahan kesedihan sendiri, tidak ada lagi orang yang bisa dijadikan tempat curhat baginya. Sahabat-sahabatnya mengingatkannya bahwa mereka selalu ada bila dibutuhkan, tetapi Ce Yanni tidak bisa lagi mempercayai orang lain setelah semua kejadian yang menimpa dirinya.



Beban berat terus dipikirkannya, Ce Yanni jadi sering migrain dan sering tidak tidur. Padahal jadwalnya cukup ketat. Ia mulai mengambil kuliah S2 Manajemen. Ia masih bisa berkuliah di tengah jadwal mengajarnya di Petra dan les-lesan. Menurutku pribadi, ia mencari kesibukan sebanyak-banyaknya untuk melupakan masalah-masalahnya. Lumayan efektif, Ce Yanni jadi lebih bahagia karena ia menemukan teman-teman baru di kuliahan. Tapi dia jadi kurang tidur dan kehabisan waktu. Bayangkan saja, mulai pagi dia harus mengajar di Petra sampai siang. Setelah itu mengurus les-les sampai sore. Langsung berangkat ke kuliah sampai malam. Apalagi kalau ada tugas kelompok, dia bisa menginap di rumah temannya. Dan berlanjut lagi pagi mengajar di Petra dll.



Wow. Aku lihat hidupnya sungguh penuh dengan kesibukan dan deadline tiap hari. Tugas-tugas kuliahnya kebanyakan memakai bahasa Inggris, padahal Ce Yanni sendiri ga 100% bisa Inggris. Aku baca modul-modulnya sama sekali ga nyambung. Bahasanya tingkat tinggi sekalee. Belum lagi koreksi ulangan-ulangan Fisika di Petra. Aku sering bantu-bantu Ce Yanni koreksi ulangannya. Aku senang bisa meriksa ulangan-ulangan, aku senang menjadi guru. Tapi Ce Yanni sering mengingatkan aku kalau menjadi guru itu tidak enak, gajinya kecil... Terutama kalau di sekolah-sekolah yang bukan bertaraf internasional, sistem gaji guru itu dibayar 1 minggu mengajar saja. Jadi dihitung berdasarkan berapa jam kamu mengajar selama 1 minggu itu. Misalnya kamu mengajar 12 jam seminggu, lalu per jam-nya dihargai Rp 30.000,00, jadi gaji per bulanmu adalah Rp 360.000,00. Jumlah yang sedikit sekalee.. Aku rasa nilai segitu tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Lain dengan di sekolah-sekolah taraf internasional, gaji bedasarkan berapa jam mengajar dalam sebulan. Ce Yanni juga yang sudah mengubah pola pikirku untuk tidak menjadi guru, padahal sebenarnya aku suka sekali.




Setelah 1 tahun meninggalnya mama Ce Yanni, kehidupannya mulai membaik. Ia kembali pelayanan ke gereja dan bergaul dengan orang banyak. Ce Yanni sering cerita kalau dia sedang dekat dengan seorang laki, tapi banyak hambatan di dalamnya. Laki ini seorang duda, sedang dalam sidang perebutan hak asuh anak (kayak artis-artis aja ya..). Ce Yanni merasa sudah cocok 99% dengan laki ini, hanya saja terganjal masalah status duda.. Sedangkan Ce Yanni sendiri sudah menginjak kepala 3, dan pihak keluarga besar mamanya sudah seringkali mendesaknya untuk segera menemukan calon suami. (Memang sulit ya jadi seorang wanita, seakan dikejar-kejar waktu supaya tidak dianggap perawan tua.)



Setelah aku naik ke kelas 3 SMA, aku tidak les lagi pada Ce Yanni. Sayang sekali aku harus memutuskan les dengannya, padahal Ce Yanni termasuk salah satu orang yang kupercayai. Setelah itu hubunganku dengannya tidak lagi sedekat dulu. Aku hanya berkomunikasi dengannya via sms dan friendster saja. Baru saat aku sweet 17th, dia datang ke acara 17th ku, dan keadaannya sudah lebih baik. Sekarang sudah lebih teratur karena ia sudah lulus S2. Hanya hubungannya dengan laki itu yang masih menggantung. Sedangkan ia sendiri mendengar kabar bahwa mantan pacarnya yang 10 tahun bersamanya itu sudah menikah dan sudah punya anak. Aku bilang, " Sabar aja ce, nanti ada waktunya sendiri buat cece." (Aku sok bijak sekali bisa berkata seperti itu ke Ce Yanni, padahal aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Aku yakin dia seorang yang sangat pandai menutupi perasaannya.)




Baru setahun belakangan ini aku dengar kabar dari temannya kalau Ce Yanni sekarang sudah tunangan. Wow. Aku agak sakit hati neh, kok aku tidak sempat diceritai Ce Yanni sendiri. Dia tunangan dengan teman gerejanya sendiri.Mereka bertemu dan berkenalan di gereja.  Puji Tuhan, bukankah itu suatu awal yang bagus? Mereka juga sudah foto-foto prewedding, ini salah satu fotonya silakan dilihat:






Lalu tanggal 3 Januari kemarin, Ce Yanni ke rumahku mengantarkan undangan pernikahannya. Puji Tuhan akhirnya Ce Yanni menemukan soulmate-nya. Seperti biasa Ce Yanni sendiri yang mengurus semua yang dibutuhkan dalam pernikahannya; memang dia sudah terbiasa mengatur kehidupannya. Mamaku sempat bilang ke Ce Yanni, "Akhirnya ya Yann..." wkwkwkw. Ce Yanni sendiri jawab, "Iya ce, lega soro sekarang." Siapa yang tidak senang akhirnya Ce Yanni menemukan kebahagiaannya. Mungkin yang sangat disayangkan oleh Ce Yanni adalah kedua orang tuanya tidak bisa melihat pernikahannya.




Pernikahannya nanti akan dilangsungkan tanggal 9 Januari 2010, hari Sabtu ini.



Aku pasti datang. Aku pasti akan menjadi saksi hari kebahagiaannya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Semoga pernikahannya langgeng, dikarunia banyak anak-cucu, hidupnya selalu diperbaharui Yesus. Amin.





"Jadi sekarang aku bisa melihat dengan jelas bahwa kehidupanku memang digariskan untuk menjadi berkat bagi orang lain…..Tapi tentunya ga gampang untuk mencapai semua ini……. Perlu banyak masalah dan air mata dalam prosesnya…….. Tapi percaya deh, semuanya pasti indah tepat pada waktunya……. ☺" (posted by Ce Yanni @ her blog)


1 comment:

Anonymous said...

wah, hebat yow.. itu adalah usaha manusia yg dsatukan dgn berkat Tuhan ^_^